.. 17 - 8 - 1945… Setelah sholat subuh Ilyas muda bersama sekitar 50 orang anggota API (Asrama Pemuda Islam) berjalan kaki dengan penuh semangat dari basecamp API di bilangan menteng menuju Pegangsaan timur 56 kediaman Soekarno..
Sampai di rumah Soekarno, tiba tiba lengan kiri Ilyas di tarik oleh Sudanco Latif Hendraningrat, komandan pleton petugas protokoler istana.
‘ dik, kamu nanti jadi pengibar bendera.. Hati hati ya.. nanti memegangnya jangan sampai sobek.. ini cuma di jahit dengan tangan oleh Bu Fatmawati..’
Tidak ada latihan, tidak ada pula gladi resik sebab beberapa saat kemudian prosesi Proklamasi Kemerdekaan langsung di mulai.
Pemuda pengibar bendera yang bercelana pendek dan membelakangi kamera seperti yang tampak dalam foto sejarah perjuangan itu adalah Ilyas Karim..
‘ di antara orang yang ada di foto tersebut tinggal saya yang masih hidup..’
Bekas tentara itu kini tak lagi tegap menantang.. kulit keriput di makan usia..kedua matanya harus di plester agar tak terpejam akibat serangan stroke beberapa tahun yang lalu..
Tentara jaman dulu memang benar benar mengabdi negara tanpa pamrih.. mereka tidak mengenal korupsi..terbukti setelah memasuki masa purna Ilyas tak jua mampu membeli rumah untuk keluarganya.. Penggusuran paksa dari asrama tentara membuatnya shock karna tanpa pemberitahuan sebelumnya ketika buldoser meratakan bangunan yang ada tanpa bisa menyelamatkan harta benda.. Ilyas tak berdaya.. serangan jantung mendera di iringi isak tangis keluarga dan kehilangan harta benda yang tak seberapa..
Ilyas tua merana.. perjuangan merebut kemerdekaan dan pengorbanan tenaga dan pikiran untuk negara tercinta hingga sang merah putih berkibar di angkasa dan pekikan ‘MERDEKA’ membahana di mana mana..tak mampu menghapus duka yang di pikulnya.. setelah Jantung mereda beban pikiran menanggung hidup dan biaya sekolah anak anaknya menggerogoti syaraf otaknya hingga penyakit stroke ia terima sampai di usia senja..
Lahan kosong yang di penuhi ilalang di sepanjang rel kereta api menjadi saksi perjuangan hidupnya.. Bangunan sederhana dengan kulit tembok yang sudah banyak mengelupas menjadi tempat tinggalnya hingga kini meski di bayang bayangi penggusuran..
‘.. saya ini pejuang dan ingin tetap berjuang sampai saya mati nanti..’
kalimat singkat padat makna itu terucap dari mulut seorang saksi perjuangan merebut kemerdekaan, di iringi senyum renta sang istri..
Kini setelah merelakan anak anaknya berjuang di berbagai bidang dan tempat, tinggalah Ilyas yang masih aktif sebagai ketua pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia (Yapsi) walau tidak tiap hari ke kantor karna ketiadaan alat transportasi pribadi..
‘.. tidak tiap hari sih.. berat di ongkos dan capek.. Paling dua kali dalam seminggu.. itung itung olah raga naik turun angkot..’
Ah.. kesahajaan seorang veteran.......
http://sejarah.kompasiana.com/2011/08/17/veteran-dedicate-to-ilyas-karim/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar