Rabu, 17 Agustus 2011

Ketika Sang Saka Tak Bermakna Apa-apa…
















Di sebuah Halaman instansi pemerintah


 Di saat upacara bendera 17-an


 ……………..


 “Kepada Sang Saka Merah Putih…..Hormaaaaaaaaaaaaaat …Grakkkk…”


 Serentak, diiringi Indonesia Raya, mereka menghomat sang Saka


 Dan




Si A….bergumam


“Bosennnn….


Bendera butut kayak gini aja…pake dihormati segala……..


Udah kering masih aja dijemur…..”


…………………………..


 Si B membayangkan…..


“Semoga abis upacara ini


Pak Felix bener-bener memenuhi janjinya beri uang pelicin


Untuk urusan proyeknya…….


Lumayan…25 juta…Cash”


………………………………


 Lalu


 Si C….ber-“doa”


“Semoga……


Laporan fiktif itu


Bisa segera selesai………..


Dan segera bisa ditandatangani untuk pencairan Dana ke dua……”


 ……….


 Dan


 Di ujung jalan


 Ada seseorang pria renta bertongkat…..


 Mendongak ke arah sang saka yang menjelang ujung tiang…..


 Dia bersyukur


“Alhamdulillah…….


Perjuanganku dulu bersama teman-teman


Kini “SANGAT DIHARGAI” oleh para penerusku


Meski


Aku harus kehilangan salah satu kakiku……”


 Tiba-tiba terdengar suara….anak kecil


“Kek…


Kok kakek menangis…??”


………………………


………………………





 Poentjak goenoeng, 16-08-11


http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/08/17/ketika-sang-saka-tak-bermakna-apa-apa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar