Di sebuah Halaman instansi pemerintah
Di saat upacara bendera 17-an
……………..
“Kepada Sang Saka Merah Putih…..Hormaaaaaaaaaaaaaat …Grakkkk…”
Serentak, diiringi Indonesia Raya, mereka menghomat sang Saka
Dan
Si A….bergumam
“Bosennnn….
Bendera butut kayak gini aja…pake dihormati segala……..
Udah kering masih aja dijemur…..”
…………………………..
Si B membayangkan…..
“Semoga abis upacara ini
Pak Felix bener-bener memenuhi janjinya beri uang pelicin
Untuk urusan proyeknya…….
Lumayan…25 juta…Cash”
………………………………
Lalu
Si C….ber-“doa”
“Semoga……
Laporan fiktif itu
Bisa segera selesai………..
Dan segera bisa ditandatangani untuk pencairan Dana ke dua……”
……….
Dan
Di ujung jalan
Ada seseorang pria renta bertongkat…..
Mendongak ke arah sang saka yang menjelang ujung tiang…..
Dia bersyukur
“Alhamdulillah…….
Perjuanganku dulu bersama teman-teman
Kini “SANGAT DIHARGAI” oleh para penerusku
Meski
Aku harus kehilangan salah satu kakiku……”
Tiba-tiba terdengar suara….anak kecil
“Kek…
Kok kakek menangis…??”
………………………
………………………
Poentjak goenoeng, 16-08-11
http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/08/17/ketika-sang-saka-tak-bermakna-apa-apa/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar